Aksara Buta untuk Pendidikan Palestina

Aksara Buta untuk Pendidikan Palestina

Oleh Ridha Hasnul Ulya

Kau pernah mendengar cerita

“Aksara itu buta”

Dibalik kebutaannya mampu

Memproduksi kata menjadi kalimat

lalu berkembang menjadi embrio paragraf

Kau pernah mengingat kapan kau mulai mengeja

Saat itu, kau masih terbata mengucap [w], [a], dan [r]

Kau pernah berpikir

Palestina menjadi doa saat shalat Jum’at

Palestina sebuah negeri di timur tengah

Panas, dan sepi senyuman

Sekali-kali berjalanlah keluar

Saat kau buka jendela

Mortal silih berganti

Menyeberangi rumahmu

Ini bukan pertandingan

seperti yang biasa kau lihat

22 orang memperebutkan bola

Di layar kaca

Ini bukan perang Eropa dan Asia

Yang dihiasi oleh ludahan

Mortil yang entah kapan

Hampir berakhir

Kau pernah berpikir tentang pendidikan

Disini takkan kau temui kata itu

Pendidikan sudah berganti

Kapur menjadi butir amunisi

Ketika kami bertanya

Siapa guru kami sebenarnya?

Apakah kondisi seperti ini

Atau menunggu musuhkah mengurui kami

Apa Media Pembelajaran kami

Apakah alam terbuka ini

Yang setiap saat bisingan mortil terus

Berkumandang di timur tengah ini

Atau menunggu musuh

Menyediakan media kematian

Berupa kafan dan peti mati.

Bagaimana strategi pemebelajaran

Apakah metode koperatif

Menyerbu dan menyergap secara berkelompok

Atau mencari tiap kelemahan musuh

Atau menggunakan strategi perang secara licik

Atau menanti musuh menyiapkan strategi yang canggih

Strategi membunuh secara koperatif

Mengubur impian tentang suatu hal

Yaitu “pendidikan”

Apakah itu pendidikan’tanpa guru,media dan strategi

Tanpa bangku sekolah yang memadai

Tanpa kantin

Tanpa uang jajan

Tanpa bel istirahat

Sekarang kami sadar

Saat membuka silabus lusuh ini

Saat Standar kompetensi pertama berbunyi

“Memahami perang jilid II”

Yang dirinci dalam Kompetensi dasar

“Dapat memahami pendidikan perang secara menyeluruh”

Kemudian dijabar menjadi indicator

Pertama, terampil menggunakan senjata

Kedua, mampu membunuh musuh dengan sadis

Ketiga, dapat memahami arti perang